Jumat, 27 April 2007

nyupik surya pos : kang guru AH bicara soal lendir..eh..lumpur

Awas Kerikil Dalam Lumpur Lapindo Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Tuesday, 10 April 2007
Yogyakarta,

Kerikil (batu kecil) dalam semburan lumpur panas Lapindo di Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur perlu diwaspadai, karena dengan adanya kerikil itu bisa terjadi penggerusan pada dinding leher pusat semburan sehingga lubang semburan akan semakin lebar.
"Lumpur yang keluar tak hanya berupa tanah, tetapi juga berupa kerikil yang tentu memiliki daya gerus terhadap dinding lubang pusat semburan, sehingga lubang akan semakin lebar dan volume semburanpun akan bertambah," kata pakar Geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir Agus Hendratno MSc di Yogyakarta, Selasa.

Ia juga mengingatkan terutama kepada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) yang baru saja terbentuk menggantikan Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Sidoarjo yang telah berakhir masa tugasnya pada 8 April lalu, luberan lumpur di kolam penampungan yang terus terjadi di sisi barat dan utara mengindikasikan terjadi penurunan permukaan tanah yang signifikan dan terus-menerus di sisi itu.

"Semestinya atau kondisi normalnya, luberan lumpur di kolam penampungan terjadi di sisi timur atau yang mengarah ke Sungai Porong maupun ke laut. Tetapi kenyataannya luberan lumpur sering terjadi di sisi barat dan utara. Kenyataan ini mengindikasikan lubang pusat semburan agak miring mengarah ke barat-utara," katanya.

Dengan kenyataaan tersebut yang perlu dicermati terhadap kemungkinan terburuk selama semburan lumpur masih berlangsung, menurut dia adalah turunnya permukaan tanah yang terus terjadi dengan luasan yang terus bertambah. "Penurunan permukaan tanah akan terus terjadi dan areanya semakin luas," kata Agus.
Mengomentari terbentuknya BPLS menggantikan tugas Timnas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, ia optimis BPLS akan bisa bekerja maksimal, karena badan ini memiliki otoritas penuh.
Artinya, menurut dia, kalau timnas otoritas dan kewenangannya terbatas terutama dalam hal penyediaan dan penggunaan biaya, dengan adanya BPLS anggaran biayanya jelas, mekipun dengan menggunakan APBN-Perubahan.

"Dulu dengan timnas ibaratnya hanya semacam kepanitiaan yang anggarannya terbatas dan hanya untuk jangka pendek, dan bahkan kewenangannyapun terbatas, kini dengan adanya BPLS minimal ada harapan bisa mengurangi segala resiko yang selama ini dihadapi timnas," katanya.
Kata dia, minimal BPLS berani negosiasi dengan Bappenas untuk menganggarkan biaya bagi segala kebutuhan dalam penanganan lumpur tersebut. "Misalnya untuk mengganti tanggul urug dengan tanggul beton di kolam penampungan, BPLS bisa mengajukan anggaran pembiayaannya ke pemerintah pusat," kata dia.

Sedangkan mengenai rangkaian bola-beton yang dimasukkan ke lubang pusat semburan lumpur yang dilakukan timnas untuk mengurangi volume semburan, menurut dia tampaknya mengalami kendala teknis.

"Sebab, mulut lubang pusat semburan arah menghadapnya belum diketahui pasti, apakah ke atas, atau ke samping kiri atau kanan, tidak jelas, sehingga rangkaian bola-beton itu apakah masuk tepat ke lubang atau tidak, dan masuk seluruhnya atau tidak, juga tidak jelas," kata Agus Hendratno yang pernah tergabung dalam tim ahli yang melakukan penelitian di awal upaya penanggulangan semburan lumpur panas di Sidoarjo itu./ ant

Tidak ada komentar: