Minggu, 29 April 2007

masih menyoal pasir buat singapura


Harian Kompas beberapa waktu yang lalu memuat artikel advetorial tentang proyek resort terpadu Keppel Bay Area di negeri Jiran kita Singapore. Weleh..luar biasa..diiklankan sebagai kompleks hunian tingkat dunia, dirancang oleh arsitek kelas dunia, dan pasti dibangun oleh kontraktor kelas dunia pula.

Tapi kalau dipikir2..mereka pasti menggunakan pasir yang itu2 juga, alias sang pasir kuarsa dari kepulauan Riau. Malang betul nasib sang pasir kuarsa ini. Padahal sang pasir akan bernilai tambah lebih besar kalau dipake jadi raw material industri gelas/kaca atau industri semen.

Kenapa ya hanya dengan alasan low cost, pemerintah RI dan pemerintah Singapura tega menghabisi pasir kepulauan Riau? Kenapa gak menghabisi pasir produk Merapi, yang secara kontinyu di gelontor via mekanisme banjir lahar.

Tapi rasanya jawaban nggak jauh2 dari kenyataan bahwa kita ini negara miskin yg kebetulan tidak beruntung bertetangga dengan negara kaya. Jadi ketika kita "kelaparan" rasanya tindakan "melacurkan" sumberdaya alam menjadi solusi yg simpel :P

nasib nasib..hehe

Menyoal export pasir ke Singapore

Ekspor Pasir ke Singapura Perlu Kajian Strategis

Batam, CyberNews. Kendati dalam perjanjian ekstaradisi tidak menyinggung ekspor pasir ke Singapura, Pemerintah Indonesia diminta agar tidak mengeluarkan izin ekspor sebelum melakukan kajian strategis dampak lingkungan akibat penambangan pasir laut maupun darat.

"Bila perlu diundang tim ahli dari Singapura dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mengkaji dampak penambangan pasir di darat maupun di laut," kata Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Batam, Nada Faza Soraya, di Batam, Senin (30/4).

Ia mengatakan sebelum adanya hasil kajian, pertama pemerintah Indonesia tetap melarang ekspor pasir hingga adanya kajian strategis dan kedua harus ada kebijakan yang jelas tentang ekspor pasir tersebut.

Singapura dilibatkan dalam melakukan kajian lingkungan guna membantu tim ahli dari Indonesia untuk mengkaji dampak atau akibat dilakukan penambangan di Perairan Provinsi Kepri.

Kajian perlu dilakukan atas pulau-pulau yang dikelilingi lautan di Kepri supaya pulau-pulau atau perairan yang dimanfaatkan untuk penambangan pasir darat atau laut aman dari segala ancaman kerusakan lingkungan.

"Indonesia, terutama Provinsi Kepri, secara langsung ataupun tidak langsung dirugikan dengan proyek reklamasi di Singapura, yang paling dirasakan akibat kerusakan lingkungan pasca penambangan," katanya.

Menurutnya, tidak ada salahnya jika Indonesia melibatkan Singapura dalam melakukan kajian-kajian sebelum pemerintah mengeluarkan izin impor pasir. Ketergantungan Singapura terhadap pasir tidak dapat dipungkiri, karena selain jarak antar kedua negara sangat dekat, juga harga pasir yang ditawarkan sangat murah bila harus didatangkan dari negara lain seperti, Thailand dan India.

Jumat, 27 April 2007

nyupik surya pos : kang guru AH bicara soal lendir..eh..lumpur

Awas Kerikil Dalam Lumpur Lapindo Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Tuesday, 10 April 2007
Yogyakarta,

Kerikil (batu kecil) dalam semburan lumpur panas Lapindo di Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur perlu diwaspadai, karena dengan adanya kerikil itu bisa terjadi penggerusan pada dinding leher pusat semburan sehingga lubang semburan akan semakin lebar.
"Lumpur yang keluar tak hanya berupa tanah, tetapi juga berupa kerikil yang tentu memiliki daya gerus terhadap dinding lubang pusat semburan, sehingga lubang akan semakin lebar dan volume semburanpun akan bertambah," kata pakar Geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir Agus Hendratno MSc di Yogyakarta, Selasa.

Ia juga mengingatkan terutama kepada Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) yang baru saja terbentuk menggantikan Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Sidoarjo yang telah berakhir masa tugasnya pada 8 April lalu, luberan lumpur di kolam penampungan yang terus terjadi di sisi barat dan utara mengindikasikan terjadi penurunan permukaan tanah yang signifikan dan terus-menerus di sisi itu.

"Semestinya atau kondisi normalnya, luberan lumpur di kolam penampungan terjadi di sisi timur atau yang mengarah ke Sungai Porong maupun ke laut. Tetapi kenyataannya luberan lumpur sering terjadi di sisi barat dan utara. Kenyataan ini mengindikasikan lubang pusat semburan agak miring mengarah ke barat-utara," katanya.

Dengan kenyataaan tersebut yang perlu dicermati terhadap kemungkinan terburuk selama semburan lumpur masih berlangsung, menurut dia adalah turunnya permukaan tanah yang terus terjadi dengan luasan yang terus bertambah. "Penurunan permukaan tanah akan terus terjadi dan areanya semakin luas," kata Agus.
Mengomentari terbentuknya BPLS menggantikan tugas Timnas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, ia optimis BPLS akan bisa bekerja maksimal, karena badan ini memiliki otoritas penuh.
Artinya, menurut dia, kalau timnas otoritas dan kewenangannya terbatas terutama dalam hal penyediaan dan penggunaan biaya, dengan adanya BPLS anggaran biayanya jelas, mekipun dengan menggunakan APBN-Perubahan.

"Dulu dengan timnas ibaratnya hanya semacam kepanitiaan yang anggarannya terbatas dan hanya untuk jangka pendek, dan bahkan kewenangannyapun terbatas, kini dengan adanya BPLS minimal ada harapan bisa mengurangi segala resiko yang selama ini dihadapi timnas," katanya.
Kata dia, minimal BPLS berani negosiasi dengan Bappenas untuk menganggarkan biaya bagi segala kebutuhan dalam penanganan lumpur tersebut. "Misalnya untuk mengganti tanggul urug dengan tanggul beton di kolam penampungan, BPLS bisa mengajukan anggaran pembiayaannya ke pemerintah pusat," kata dia.

Sedangkan mengenai rangkaian bola-beton yang dimasukkan ke lubang pusat semburan lumpur yang dilakukan timnas untuk mengurangi volume semburan, menurut dia tampaknya mengalami kendala teknis.

"Sebab, mulut lubang pusat semburan arah menghadapnya belum diketahui pasti, apakah ke atas, atau ke samping kiri atau kanan, tidak jelas, sehingga rangkaian bola-beton itu apakah masuk tepat ke lubang atau tidak, dan masuk seluruhnya atau tidak, juga tidak jelas," kata Agus Hendratno yang pernah tergabung dalam tim ahli yang melakukan penelitian di awal upaya penanggulangan semburan lumpur panas di Sidoarjo itu./ ant

Senin, 23 April 2007

Paleontology : Kapan2 kumpul2 di Sangiran Yuksss

Fosil Buaya Purba Berumur 800 Ribu Tahun


SM/Antara FOSIL BUAYA: Dua petugas dari Laboratorium Situs Sangiran membersihkan fosil buaya purba di Situs Sangiran, Sragen, Senin (23/3). (57)


SRAGEN-Seorang petani menemukan fosil kepala buaya purba di sawahnya di kawasan Situs Purbakala Sangiran, Sragen. Tim peneliti dari Balai Purbakala Sangiran memperkirakan fosil sepanjang hampir satu meter itu telah berusia 800 ribu tahun.

Penemu fosil adalah petani bernama Mulyono, yang sedang menggarap sawahnya di Dusun Pucung, Dayu, Gondangrejo, Karanganyar. Lokasi itu memang termasuk kawasan Situs Sangiran yang berpusat di Dusun Sangiran, Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen. Lokasi penemuan dengan situs utama hanya dipisahkan oleh Kali Cemoro.

Mulyono mengaku menemukannya pada Jumat (20/4/2007) siang di sawah. Saat sedang menggali tanah untuk irigasi sawah, dia mendapat batu yang menyerupai gerigi hewan. Saat itu Mulyono telah menduga benda itu sebuah fosil, karena memang daerah tersebut merupakan kawasan situs purbakala.

Karena terkendala hujan, penggalian baru dilakukan esok harinya dan didapatkan bentuk utuh menyerupai tulang kepala buaya. Selanjutnya dia melaporkan temuan itu ke pengelola Situs Sangiran.

Menurut Petugas laboratorium Sangiran fosil itu tergolong masih utuh dan merupakan temuan dalam ukuran besar. Ukuran fisik fosil berdiameter 49 cm dan panjangnya mencapai 95 cm. Belum dapat dipastikan usia fosil itu, namun dugaan awal petugas, fosil itu telah berusia 800 ribu hingga 700 ribu tahun. Dugaan itu didasarkan pada lokasi penemuannya.

Gunawan, salah seorang petugas di Situs Sangiran yang ditemui Senin (23/4/2007), memaparkan lereng bukit Pucung tempat fosil itu ditemukan adalah termasuk pada formasi Kabuh. Di lapisan tanah pada formasi itu selama ini banyak ditemukan fosil pada masa pleistocen tengah.

"Masa pleistocen tengah adalah pada 800 ribu hingga 700 ribu tahun yang lalu. Ini masih merupakan perkiraan sementara dengan mengacu pada lokasi penemuan fosil," ujar Gunawan.(dtc-41)

Harias Musitha : in memorium

Rekans

Sosok Harias yg saya kenang adalah sosok yg hangat, humoris, tidak pilih2 kalo bergaul, tidak gampang marah, dan ....yg paling penting....murah senyum.

Sosok Harias yg saya kenang adalah sosok ramping di atas sadel Honda astrea prima hitam, tanpa pernah lepas dari back pack merek "alpina" nya.

Sosok Harias yg saya kenang adalah sosok yg bersama saya terengah2 berjalan di ekor rombongan trip..mencoba mengejar rekan2 yg jagoan jalan ngebut (hehehe)

Sosok Harias yg saya kenang adalah sosok yg baik.

Selamat jalan teman.

Semoga Tuhan YME mengampuni semua dosa dan kesalahanmu.

Jumat, 20 April 2007

Berita Duka : Selamat jalan teman



Kepada Rekan2 semua.

Saya baru saja mendapat informasi dari Mas Irwan Purnomo di Solo
Melalui Telepon bahwasannya,
Telah meninggal dunia teman kita almarhum sdr. Harias Musita '89 pada
hari Selasa minggu lalu, pada tanggal 10 April 2007, di rumah duka di
Jogjakarta, karena sakit pada ganguan pencernaan. Semoga arwahnya
diterima di sisi tuhan dan keluarga yang ditinggalkan mendapat
kesabaran dan ketabahan. Amin.

Terimaksih atas perhatiannya

Salam,
Agung Saputra